JAKARTA, Aurduri.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyusun skema pendistribusian Compressed Natural Gas (CNG) berukuran 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG, mengingat sekitar 80 persen kebutuhan nasional saat ini masih dipasok dari luar negeri. Berbeda dengan LPG, CNG dipilih karena bahan bakunya melimpah dan tersebar luas di wilayah nusantara.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan mekanisme baru ini memiliki keunggulan tersendiri, di mana masyarakat tidak perlu lagi membeli tabung gas.
“Skemanya, masyarakat tidak beli tabung. Tabung milik badan usaha atau pemasok gasnya. Skema yang sedang disiapkan ini membebaskan masyarakat dari kewajiban memiliki tabung,” ungkapnya pada Kamis, 21 Mei 2026 dikutip dari suara.com.
Dalam tiga bulan ke depan, pemerintah bersama calon pelaku usaha akan fokus pengadaan tabung yang memenuhi standar keamanan, dengan target pemesanan awal sekitar 100.000 unit. Setelah tahap pengujian keamanan selesai, proyek percontohan akan segera dilaksanakan di kota-kota besar di Pulau Jawa, meliputi Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya.
Sistem penyaluran CNG ini nantinya akan serupa dengan mekanisme LPG 3 kilogram yang berlaku saat ini, di mana pengguna cukup menukarkan tabung kosong dengan yang berisi gas. Meskipun demikian, pemerintah tetap akan menerapkan pembatasan jumlah tabung yang dapat dimiliki setiap rumah tangga guna menjaga ketersediaan pasokan.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa keberadaan CNG menjadi solusi strategis karena tidak bergantung pada pasokan impor, sehingga dapat menjamin ketahanan energi nasional di masa depan. (*)









![Bukti chat dari salah satu peserta. [sumber peserta PBAK]](https://aurduri.com/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-18-at-20.17.52-350x250.jpeg)
Discussion about this post