JAMBI, Aurduri.com – Pemerintah Kota Jambi mulai melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem pengelolaan persampahan di wilayah Kecamatan Jambi Timur. Langkah konkret yang diambil saat ini adalah penutupan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) terbuka yang berada di kawasan depan Pasar Talang Banjar, yang selanjutnya akan dialihfungsikan menjadi transfer depo atau tempat penampungan sementara berstandar lebih baik, sekaligus berperan sebagai lokasi percontohan pengelolaan sampah terpadu.
Penutupan TPS tersebut dilakukan secara langsung oleh Wali Kota Jambi, Maulana, didampingi Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, pada Kamis (21/5/2026). Di tengah padatnya aktivitas pasar dan lalu lalang warga, Maulana menegaskan bahwa penanganan sampah di Jambi Timur tidak lagi bisa diselesaikan menggunakan cara-cara lama, mengingat volume sampah yang dihasilkan wilayah ini sangat besar, mencapai 14 truk fuso setiap harinya, yang selama ini harus diangkut langsung menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Talang Gulo.
“Jambi Timur ini produksi sampahnya sangat besar, bisa mencapai 14 truk fuso per hari yang dibawa ke Talang Gulo. Padahal sampai saat ini kita belum memiliki transfer depo yang memadai untuk penampungan dan pengolahan sementara sebelum dibuang ke TPA,” ungkap Maulana.
Menurutnya, fondasi pengelolaan sampah yang baik sebenarnya sudah mulai terbentuk berkat penerapan sistem Pengelolaan Persampahan Berbasis Masyarakat (OPBM) yang berjalan efektif di sejumlah kelurahan. Bahkan di wilayah seperti Talang Banjar, Kasang, Kasang Jaya, hingga Budiman, cakupan pelayanan pengambilan sampah hingga ke rumah warga sudah berjalan hampir menyeluruh. Kesadaran dan partisipasi masyarakat yang meningkat ini menjadi modal utama bagi pemerintah daerah untuk mempercepat transformasi sistem persampahan kota.
“Penerapan OPBM di Jambi Timur sangat luar biasa. Di Talang Banjar saja sudah berjalan 100 persen, sampah sudah diambil langsung dari rumah warga. Kini yang kita butuhkan adalah fasilitas depo yang layak sebagai titik pengolahan sementara sebelum sisanya diangkut ke Talang Gulo,” tambahnya.
Maulana menjelaskan bahwa Pemkot Jambi sebenarnya telah menyiapkan lokasi pembangunan transfer depo permanen di kawasan dekat Pertamina. Namun, mengingat pembangunan fasilitas permanen memerlukan waktu perencanaan dan penganggaran, maka lokasi bekas TPS Pasar Talang Banjar dipilih sebagai solusi sementara sekaligus lokasi uji coba sistem baru.
Langkah ini tidak berjalan sendirian, melainkan mendapat dukungan kuat dari warga. Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Talang Banjar bersama tokoh masyarakat setempat bahkan turut berperan aktif menyiapkan lokasi secara swadaya.
“Ini juga berkat inisiatif masyarakat. Nanti bangunan akan ditutup menggunakan seng secara gotong royong. Kami juga akan menambah alat angkut dan sarana pendukung lainnya. Jadi untuk sementara, seluruh pengelolaan akan dipusatkan di sini dulu,” jelasnya.
Bangunan bekas pasar yang ada di kawasan tersebut nantinya akan dimanfaatkan sebagai ruang pemilahan sampah, memisahkan antara sampah organik dan non-organik agar pengelolaan lebih teratur dan mengurangi volume yang dibuang ke TPA. Ke depannya, kawasan ini ditetapkan sebagai depo percontohan, yang diharapkan menjadi model pengelolaan baik sebelum akhirnya dipindahkan ke lokasi permanen.
“Besok alat berat dari Dinas PU sudah mulai masuk untuk menata tumpukan sampah yang ada. Kami ingin tempat ini menjadi contoh bagaimana seharusnya pengelolaan sampah dilakukan, sebelum nanti beralih ke lokasi permanen yang telah direncanakan,” tegas Maulana.
Kebijakan penutupan TPS liar dan pengurangan titik pembuangan terbuka dilakukan secara bertahap dan terukur. Pemkot memastikan penutupan hanya akan dilakukan jika minimal 80 persen sistem OPBM di wilayah tersebut telah berjalan aktif dan terorganisir.
Oleh karena itu, Maulana meminta warga untuk mengubah pola pikir dan tidak lagi bersikap pasif dalam urusan kebersihan lingkungan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan atau hanya menunggu diangkut tanpa koordinasi harus segera ditinggalkan.
“Kalau TPS terbuka sudah ditutup, sarana pengangkutan sampah sebenarnya sudah tersedia. Tugas masyarakat sekarang adalah aktif bergabung, jangan pasif menunggu tanpa kejelasan. Silakan berkoordinasi dengan RT, bergabung dengan TPS 3R, bank sampah, atau kelompok warga yang sudah ada,” imbaunya.
Ia kembali menegaskan bahwa kebersihan kota bukanlah tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tanggung jawab dan wujud kepedulian bersama seluruh elemen masyarakat Kota Jambi.
“Ini adalah wujud kepedulian kita menjaga kebersihan kota. Jika masyarakat aktif berperan, sistem ini akan berjalan lebih cepat dan hasilnya akan jauh lebih baik,” pungkas Maulana. (Adv)









![Bukti chat dari salah satu peserta. [sumber peserta PBAK]](https://aurduri.com/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-18-at-20.17.52-350x250.jpeg)
Discussion about this post