JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan Senin, 25 Mei 2026 dengan pergerakan positif. Berdasarkan data pasar spot dari Bloomberg, mata uang Garuda dibuka menguat 17 poin atau setara 0,10 persen ke level Rp17.700 per dolar AS, naik dari posisi penutupan akhir pekan lalu yang bertengger di angka Rp17.716 per dolar AS.
Penguatan ini beriringan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang tercatat turun 0,24 persen ke level 99.009, seiring meningkatnya minat risiko pelaku pasar global. Analis Keuangan dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan ada sejumlah faktor utama yang menjadi penentu pergerakan rupiah pagi ini, mulai dari sentimen geopolitik hingga aliran modal asing.
“Penyebab utama rupiah bergerak menguat pagi ini didorong oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah. Ada harapan baru terkait kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, yang langsung menekan harga minyak dunia turun di bawah ambang US$100 per barel. Bagi Indonesia sebagai pengimpor minyak, ini adalah kabar baik yang otomatis meringankan tekanan pada nilai tukar,” ungkap Lukman dalam keterangannya.
Selain faktor eksternal, ia menambahkan dukungan juga datang dari masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi dan saham dalam negeri. Kepercayaan investor masih terjaga di tengah komitmen Bank Indonesia menjaga suku bunga acuan serta stabilitas sistem keuangan, yang membuat aset Indonesia tetap menarik dibandingkan negara berkembang lain.
Meski bergerak ke zona hijau, Lukman mengingatkan penguatan ini masih tergolong terbatas dan belum bisa disebut pembalikan tren besar. Ia memproyeksikan sepanjang hari ini rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS, dengan catatan masih berpotensi melemah kembali jika muncul kabar baru yang memicu ketidakpastian pasar.
“Kuncinya sekarang ada pada kejelasan kebijakan The Fed dan perkembangan di Timur Tengah. Jika ketegangan kembali naik atau ada sinyal kenaikan suku bunga AS lagi, rupiah bisa langsung terkoreksi. Namun selama harga minyak tetap terkendali dan aliran modal masuk, rupiah punya ruang untuk terus menguat perlahan,” jelasnya.
Sementara itu, di pasar perbankan, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mematok kurs beli di angka Rp17.724 dan jual Rp17.744 per dolar AS. Di sisi lain, Bank Indonesia menegaskan terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga pergerakan tetap teratur dan tidak terlalu bergejolak, sejalan target stabilisasi di kisaran Rp16.800–Rp17.500 yang menjadi acuan kebijakan fiskal tahun depan.
Pengamat ekonomi lain, Bhima Yudhistira, menilai pergerakan hari ini adalah respons pasar yang wajar, namun rupiah masih butuh dorongan lebih kuat dari data ekonomi dalam negeri agar bisa bertahan di bawah level Rp17.700 dalam jangka panjang.
“Pelemahan dolar hari ini bersifat sementara. Agar rupiah benar-benar kokoh, kita butuh ekspor tetap tumbuh, cadangan devisa aman, dan inflasi terjaga. Faktor eksternal hanya pendorong, fondasi tetap harus dari dalam,” tambahnya.
Hingga pertengahan sesi pagi, rupiah masih bertahan di sekitar Rp17.702 per dolar AS, menunggu rilis data ekonomi AS akhir pekan ini yang diprediksi akan kembali mengarahkan arah pergerakan mata uang dunia.








![Bukti chat dari salah satu peserta. [sumber peserta PBAK]](https://aurduri.com/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-18-at-20.17.52-350x250.jpeg)
Discussion about this post