• Beranda
  • Disclaimer
  • Hak Jawab dan Koreksi Berita
  • Iklan
  • Karir
  • Kode Etik
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Tentang Kami
Kamis, April 16, 2026
Aurduri
  • Beranda
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Hukrim
  • Pemerintahan
  • Kabar TNI-Polri
  • Ekobis
  • Politik
  • Lifestyle & Hiburan
  • Opini
  • Olahraga
  • Advertorial
  • Beranda
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Hukrim
  • Pemerintahan
  • Kabar TNI-Polri
  • Ekobis
  • Politik
  • Lifestyle & Hiburan
  • Opini
  • Olahraga
  • Advertorial
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
Home Opini

Stockpile Batubara dan Konflik Ruang Pembangunan

by admin
11/03/2026
in Opini
0
PostTweetSendScan

Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP

Kontroversi seputar keberadaan stockpile batubara milik PT Sinar Anugerah Sukses (PT SAS) di Jambi kembali memperlihatkan satu pola lama dalam cara kita memahami pembangunan. Setiap kali masyarakat menolak sebuah proyek, narasi yang segera muncul hampir selalu sama, masyarakat dianggap menghambat investasi. Penolakan dipahami sebagai resistensi terhadap kemajuan, seolah-olah pembangunan hanya memiliki satu arah, investasi datang, masyarakat menyesuaikan.

Baca juga

Gubernur Al Haris Dorong HKTI Jadi Lokomotif Gerakan Pangan di Jambi

Jemput Bola ke Pusat, Bupati Dilla Hikmah Sari Perjuangkan Sektor Kesehatan dan Infrastruktur Tanjab Timur

Gubernur Al Haris dan Wamendagri Bima Arya Apresiasi Program Kampung Bahagia

Gubernur Al Haris Hadiri Bedah Buku Babad Alas, karya Autobiografi – Reflektif Wamendagri Bima Arya Sugiarto

Cara pandang seperti ini sebenarnya terlalu sederhana untuk menjelaskan realitas konflik pembangunan yang terjadi di banyak tempat. Dalam praktiknya, penolakan masyarakat sering kali bukan lahir dari sikap anti-investasi, melainkan dari kekhawatiran yang sangat konkret terhadap dampak yang langsung menyentuh ruang hidup mereka.

Dalam sejumlah pemberitaan, perusahaan tersebut bahkan menyatakan bahwa proyeknya telah mengantongi berbagai perizinan sejak beberapa tahun lalu. Perusahaan ini juga mengklaim menjadi satu-satunya pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Provinsi Jambi yang mengambil langkah membangun jalan khusus batubara sebagai bagian dari upaya memperbaiki tata kelola angkutan batubara yang selama ini banyak menuai kritik. Namun fakta bahwa proyek tersebut tetap memicu penolakan dari masyarakat memperlihatkan satu hal penting, legalitas administratif tidak selalu identik dengan penerimaan sosial.

Padahal, dalam logika pembangunan yang sehat, hubungan itu seharusnya berjalan dua arah. Investasi memang penting bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi investasi juga memiliki kewajiban untuk menyesuaikan diri dengan ruang hidup masyarakat. Ketika keseimbangan ini hilang, konflik sosial menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan.

Salah satu contoh yang paling jelas dari ketidakseimbangan tersebut dapat dilihat pada keberadaan fasilitas logistik tambang seperti stockpile batubara. Stockpile bukan sekadar fasilitas penyimpanan. Fasilitas ini merupakan simpul logistik industri ekstraktif yang membawa konsekuensi nyata, debu batubara, lalu lintas truk berat, kebisingan, dan tekanan ekologis terhadap lingkungan sekitar. Jika fasilitas semacam ini berdiri terlalu dekat dengan permukiman atau ruang hidup masyarakat, maka yang dipertaruhkan bukan lagi sekedar aktivitas ekonomi, tetapi kualitas hidup manusia.

Masalahnya, dalam banyak kasus pembangunan di Indonesia, konflik semacam ini hampir selalu diselesaikan dengan logika yang sama, masyarakat diminta memahami kepentingan investasi. Namun jarang sekali pertanyaan sebaliknya diajukan, apakah investasi tersebut sudah ditempatkan pada ruang yang tepat? Pertanyaan ini menjadi penting karena dalam praktik pembangunan, persoalan penataan ruang sering kali justru tertinggal di belakang laju investasi.

Pembangunan sering kali bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita menata ruang. Proyek muncul di berbagai tempat tanpa desain spasial yang benar-benar matang. Ketika konflik muncul, masyarakat yang pertama kali diminta untuk menyesuaikan diri. Padahal dalam banyak pengalaman global, fasilitas logistik pertambangan seperti stockpile hampir selalu ditempatkan dalam zona industri khusus atau koridor logistik yang jelas. Penempatan semacam ini bukan sekedar teknis, melainkan prinsip dasar dalam tata kelola industri ekstratif agar aktivitas produksi tidak bertabrakan dengan ruang hidup masyarakat.

Jika sebuah fasilitas industri menimbulkan penolakan yang luas dari masyarakat di sekitarnya, maka situasi tersebut biasanya menjadi indikator bahwa penempatan investasi belum sepenuhnya selaras dengan ruang sosial tempat fasilitas tersebut beroperasi. Dalam konteks ini, gagasan relokasi stockpile bukanlah bentuk kekalahan investasi. Sebaliknya, relokasi justru merupakan pilihan rasional agar investasi dapat berjalan tanpa terus menerus berada dalam bayang-bayang konflik sosial. Konflik yang berkepanjangan selalu mahal. Demonstrasi, tekanan politik, ketidakpastian operasi, hingga rusaknya kepercayaan publik pada akhirnya menciptakan biaya sosial dan ekonomi yang jauh lebih besar dibanding penyesuaian lokasi proyek.

Lebih dari itu, persoalan ini seharusnya menjadi pengingat bagi pemerintah bahwa industri batubara tidak bisa dikelola dengan pendekatan yang sporadis. Industri ini membutuhkan desain logistik yang jelas, koridor angkutan, lokasi stockpile, hingga terminal pengapalan yang terintegrasi dalam rencana tata ruang. Tanpa kerangka kebijakan yang terintegrasi, investasi di sektor ekstratif akan terus bergerak secara parsial dan berulang kali menciptakan konflik yang sebenarnya dapat dihindari sejak tahap perencanaan ruang.

Pada akhirnya, persoalan tata kelola ruang seperti inilah yang menentukan apakah pembangunan berjalan secara adil atau justru memindahkan beban kepada masyarakat di sekitarnya. Pembangunan tidak pernah benar-benar ditentukan oleh seberapa banyak investasi yang masuk, tetapi oleh seberapa adil ruang pembangunan itu dibagi. Jika sebuah proyek hanya bisa berjalan dengan menuntut masyarakat untuk terus mengalah, maka sesungguhnya proyek itu tidak sedang membangun masa depan.

Proyek semacam itu hanya memindahkan beban pembangunan kepada mereka yang paling dekat dengan dampaknya. Karena itu, ketika sebuah proyek menimbulkan tekanan yang tidak proporsional terhadap ruang hidup masyarakat, peninjauan kembali terhadap lokasi proyek menjadi sesuatu yang wajar untuk dipertimbangkan.

Dalam keadaan seperti itu, relokasi bukan sekadar solusi teknis. Relokasi adalah koreksi atas sebuah kesalahan mendasar, investasi yang sejak awal ditempatkan pada lokasi yang tidak selaras dengan ruang sosialnya. Pembangunan yang sehat selalu memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan ruang dan memperbaikinya sebelum konflik berubah menjadi beban sosial yang berkepanjangan. Sebab pada akhirnya, pembangunan yang benar bukan hanya diukur dari seberapa cepat proyek berdiri, tetapi dari seberapa bijak kita menempatkannya di ruang yang tidak mengorbankan kehidupan masyarakat.

Penulis merupakan Akademisi UIN STS Jambi

Previous Post

Jelang Lebaran, Pemkot Jambi Salurkan Bantuan Pangan kepada 50.213 Masyarakat

Next Post

Perkuat Akses Pembiayaan, OJK Proyeksi Kredit UMKM Tumbuh 7-9 Persen pada 2026

Artikel terkait

Opini

Mengejar Asa: Menjadikan Jambi Memiliki Peran Strategis di Sumatera

15/04/2026
Opini

Kebijakan Hilirisasi: Keputusan Cerdas Akselerasi Pembangunan Daerah

08/04/2026
Opini

Dari Penataan Menuju Validasi: Menguji Desain Fiskal Daerah

03/04/2026
Opini

Arah Kebijakan Pembangunan Jambi yang Inklusif dan Berkelanjutan: Tinjauan Politik Hukum dan Administrasi Publik

02/04/2026
Opini

Aktivis Sarat Kepentingan: Tajam ke Lawan, Tumpul ke Kawan — Siapa yang Sebenarnya Sedang Dikawal?”

28/03/2026
CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v80), quality = 80?
Opini

Jambi Mantap Terkelola: Ketika Stabilitas Pangan dan Kelancaran Mudik Bukan Sekadar Kebetulan

26/03/2026
Next Post
OJK.

Perkuat Akses Pembiayaan, OJK Proyeksi Kredit UMKM Tumbuh 7-9 Persen pada 2026

“Menjaga Objektivitas Hukum: Tidak Tepat Menarik Gubernur dalam Perkara DAK Disdik Jambi”

OJK

OJK Terbitkan Aturan Baru tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing dan Alih Pengetahuan di Perbankan

“Rudy Disebut Broker di Persidangan: Apakah Keterangannya Merupakan Fakta Hukum atau Narasi yang Dilebih-lebihkan?”

Pemkab Tanjabtim Apresiasi Kontribusi SKK Migas - PetroChina Dukung Pembangunan Daerah

Discussion about this post

  • Bukti chat dari salah satu peserta. [sumber peserta PBAK]

    PBAK STAI An-Nadwah, Pengenalan Budaya Akademik atau Promosi Organisasi?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 11 Pemuda JKS Sangat Menyayangkan Keputusan Maulana: Blue Print dan Cita-cita Kami Jambi Kota Seberang Bias Dianggap Sebelah Mato

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Biografi Ade Chandra: Pemimpin Lokal yang Tegas Berantas Praktik Ilegal di Jambi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Triwulan I Tahun 2023, Polda Jambi Selamatkan 404.410 Jiwa dari Penyalahgunaan Narkotika

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lapor Pak Bupati! Puluhan PSK Lokalisasi ‘Pucuk’ Jambi Buka Cafe di Pematang Lumut Betara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perusahaan Tambang Pemasok PLN Hancurkan Kehidupan Orang Rimba di Batanghari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Perempuan Ditemukan Tewas Tergantung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dirut PT MMJ Pengelola Pabrik PT PAL Sidomukti, Tuduhan Tidak Benar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Muda Jambi: Rikki Arisandi, Dai yang Tumbuh dari Tanah Maro Sebo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kecam Aksi Anarkis, DPP Raden Melayu Jambi Desak Penegakan Hukum Tindak Tegas Pelaku Pengerusakan Kantor Gubernur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Erlangga Media Digital

Alamat Redaksi: Jl. RA Kartini RT 25 Talang Bakung, Paalmerah, Kota Jambi

CP: 085216010044

email: redaksiaurduri@gmail.com

  • Beranda
  • Disclaimer
  • Hak Jawab dan Koreksi Berita
  • Iklan
  • Karir
  • Kode Etik
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Tentang Kami

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Hukrim
  • Pemerintahan
  • Kabar TNI-Polri
  • Ekobis
  • Politik
  • Lifestyle & Hiburan
  • Opini
  • Olahraga
  • Advertorial